Menapak Jejak Tanah Perjanjian

Meski tidak diwajibkan seperti pergi haji bagi umat muslim, dapat pergi ke Tanah Perjanjian menjadi impian sebagian umat nasrani di berbagai negara. Tanah Perjanjian merupakan daerah-daerah yang tertulis dalam Kitab Suci umat nasrani. Pada bulan Januari 2011 lalu, saya berkesempatan untuk mengikuti salah satu rombongan tour wisata rohani ke Tanah Perjanjian dari Greja Bethani Surabaya. Rute yang akan kami lalui adalah dari Jakarta (Indonesia) ke Kairo (Mesir), Gunung Sinai (Mesir), Yerusalem, Yerikho, Nazaret (Israel), Betlehem (Palestina). Tempat-tempat yang kami kunjungi memang daerah-daerah yang tertulis di Alkitab. Terlepas dari berbagai kontroversi tentang negara yang saya kunjungi, saya tidak peduli. Ada banyak hal bisa kita nikmati dari pada sekedar mencurigai.
Nyalakan Lilin sebelum Gelap; Judul tersebut saya berikan karena hari pertama saya di Mesir, tepatnya di ibu kota Kairo, saya jalan-jalan ke perkampungan nasrani. Di sana ada banyak greja-greja yang menurut saya bangunannya tak beda jauh dengan masjid hanya saja ujungnya diberi simbol salib. Sore harinya, saya sudah bertolak dari Kairo dan besoknya saya melihat berita kerusuhan parah terjadi di Kairo.


Memecah Fajar dari Gunung Sinai; Dengan Tinggi 2.285 meter, Gunung Sinai berada di barisan pegunungan di sebelah selatan Semenanjung Sinai (Mesir). Gunung Sinai merupakan tempat tujuan para wisatawan rohani dari berbagai dunia karena oleh umat nasrani, tempat ini dipercaya sebagai tempat Musa menerima sepuluh perintah Allah. Untuk mencapai puncak Gunung Sinai, saya harus mendakinya. Onta hanya bisa membawa saya dari parkiran kendaraan sampai kaki gunung. Pada saat itu, bulan Januari, masih musim dingin, mungkin bisa dikatan suhu mencapai minus derajat karena beberapa bagian Gunung Sinai memutih tertutup es.


Syalom, Yerusalem!; Inilah kota Yerusalem, kota suci bagi umat Kristen, Islam, dan Yahudi karena terdapat tempat-tempat bersejarah bagi perjalanan agama-agama tersebut. Melihat kecantikan kota tersebut, saya tak heran jika kota Yerusallem diperebutkan oleh banyak pihak. Bahkan hampir semua negara tidak mengakui kota tersebut adalah ibu kota Israel.


Kubah Shakhrah; Salah satu tempat suci yang ada di Yerusaleem adalah Kubah Shakhrah. Nama lainnya adalah Kubah Batu, terletak di Kota Lama Yerusalem (Sebelah Timur). Di dalam kubah ini terdapat batu Ash-Shakhrah yang menjadi tempat paling suci bagi umat Yahudi. Kubah Shakhrah bukanlah sebuah masjid, sebaliknya, merupakan sebuah kompleks yang terdapatnya sebuah batu besar yang dikatakan tempat Nabi Muhammad berdiri ketika peristiwa Isra dan Mi’raj. Qubbat As-Sakhrah terletak di Baitulmuqaddis di kawasan Al-Haram asy-Syarif. Qubbat As-Sakhrah bukanlah Masjid Al-Aqsa karena Masjid Al-Aqsa terletak tidak jauh daripada bangunan ini.
Kubah ini terletak di kawasan muslim, hanya orang muslim yang boleh memasuki areal tersebut. Saya pun mencoba masuk, untuk meyakinkan saya memakai plasmina sebagai jilbab. Di depan gerbang telah ada petugas berwajah Arab dengan sorban di atas kepala dan pistol panjang.
“Hey, where are you come from? Are you Moslem?” tanyanya mencegatku, orang asing yang akan masuk.
“Indonesia. Yes, I’m Moslem!” kataku sambil menunjukkan passport dan membetulkan jilbab ‘dadakan’. Dia masih bengong melihat pasportku dan penampilanku, jaket kulit, celana jeans, sepatu kets, dan jilbab. Kukeluarkan KTP-Indonesiaku.
“This is my country ID card. Here you are, my religion: Islam. It means Moslem,” kataku sambil menunjuk tulisan agama di KTP.
“But your dress not like Moslem’s women,” katanya lagi.
“Oh It’s okay wear like this in my country. I’m sorry, but I want to pray to Allah and see what a great He made,” kukeluarkan gombal-gombal sedikit untuk merajuknya.
“Can you tell me alfateha?”
Kubacakan surat alfateha, dengan gaya dicengkok-cengkokan supaya tampak lebih meyakinkan. Saya hafal betul dengan surat tersebut, tapi dengan kondisi dipelototin serdadu bersenapan gini, saya jadi sering-sering lupa. “Okay! You can go. Wear this!” katanya setelah yakin bahwa saya Islam. Dia juga meminjamkan bawahan rok panjang untuk saya gunakan selama memasuki areal muslim tersebut. Saya baru sadar kalau yang dimaksud “tidak berpakaian seperti perempuan muslim” itu karena saya pakai celana (bukan rok).


Bapa Kami Lintas Bahasa; Kapel Bapa Kami dibuat karena dipercaya di tempat tersebutlah diturunkannya doa Bapa Kami, yang merupakan pedoman doa bagi umat nasrani. Dalam kapel tersebut dapat berbagai tulisan Doa Bapa Kami dalam berbagai bahasa di seluruh dunia, bahkan hingga bahasa sukubangsa di Indonesia, seperti Jawa, Papua, Palembang, Toraja. Mungkin ini menunjukkan bahwa Dia selalu mengerti bahasa kita dan apa yang kita sampaikan dengan cara yang kita ketahui masing-masing.


Meratap Pada Shekhinah; Malam terakhir di Yerusallem, saya menyempatkan ke Tembok Ratapan. Tempat yang sangat sacral bagi umat Yahudi. Ini adalah sisa dinding Bait Suci di Yerusalem yang dibangun oleh Raja Salomo (Sulaiman), putra Daud. Bait Suci itu hancur ketika Israel diserbu tentara Romawi pada tahun 70 Masehi. Panjang tembok ini aslinya sekitar 485 meter, dan sekarang sisanya hanyalah 60 meter. Orang Yahudi percaya bahwa tembok ini tidak ikut hancur sebab di situlah berdiam “Shekhinah” (kehadiran ilahi). Berdoa di situ dianggap sama artinya dengan berdoa kepada Tuhan. Tembok ini dulunya dikenal hanya sebagai Tembok Barat, tetapi kini disebut “Tembok Ratapan” karena di situ orang Yahudi berdoa dan meratapi dosa-dosa mereka dengan penuh penyesalan. Selain mengucapkan doa-doa mereka, orang Yahudi juga meletakkan doa mereka yang ditulis pada sepotong kertas yang disisipkan pada celah-celah dinding itu. Dinding ini di bagi dua bagian, untuk laki-laki dan perempuan. Dalam kepercayaan Yahudi, laki-laki dan perempuan tidak boleh berdampingan ketika berdoa. Tembok ini diperlakukan sangat suci sehingga, orang Yahudi tidak mau membelakangi tembok tersebut. Ketika mereka telah selesai berdoa, mereka jalan mudur sampai batas keluar supaya tidak membelakangi tembok tersebut.


Prepare for Reborn; Salah satu ritual yang ingin dilakukan para wisatawan rohani ketika melancong ke Tanah Perjanjian adalah dibaptis di Sungai Yordan. Baptisan dikenal sebagai ritual inisiasi Kristen yang melambangkan pembersihan dosa dengan menyelupkan seluruh tubuh ke dalam air. Sungai Yordan dipercaya oleh umat nasrani sebagai sungai yang membaptis Yesus. Sungai itu terletak di batasan antara Israel dan Yordania.

3 thoughts on “Menapak Jejak Tanah Perjanjian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s