Wah, Warung Saya ‘Disidak’ Pak Da’I Kondang

Disclaimer:

Ini adalah pengalaman saya, sebagai pebisnis hospitaliti yang ujug-ujug kedatangan tamu VIP, yakni penceramah kondang kaliber international. Adapun maksud tulisan ini untuk seedar berbagi cerita bukan suatu pernyataan sikap pro atau kontra. Bacalah sembari menyedu teh atau kopi tanpa perlu ditambah emosi.

Selasa pagi ketika aku bangun tidur, eh siang ding aku kan bangunnya siang, seperti biasa hal yang pertama yang kulakukan adalah mengecek hape dan seperti biasa juga puluhan notifikasi pesan muncul di layar. Maklum orang sibuk. Salah satu pesan berasal dari papa yang mengirimkan file berisi sebuah jadwal dengan judul: Jadwal Kunjungan Prof. Dr. Zakir Naik Di Kota Batu. Dan di situ ada tulisan, rombongan makan malan di Pupuk Bawang. Hah, bercanda ini pasti! Mengingat aku dan papa sering kirim-kiriman meme yang berbau isu-isu yang sedang popular.

Ternyata papa nggak sedang bercanda karena begitu tiba di warung, ada yang menginformasikan kalau besok ada yang mau memborong tempat untuk besok. Iya, besok banget, saudara-saudara. Jujur secara pribadi, aku kurang mengenal sosok tamu istimewa yang memesan seluruh meja di warungku untuk makan malam itu. Memang aku pernah beberapa kali melihat video ceramahnya di youtube dan beberapa teman sosmed memposting tentang beliau. Dengan pemahamanku yang cukup minim ini, kira-kira aku tahu apa yang harus aku ‘bersihkan’ untuk menyambut kedatangan beliau.

Malam itu juga, kami sewarung berkumpul untuk merencakan jamuan yang pas untuk rombongan Prof. Dr. Zakir Naik. Mulai dari menu yang akan disajikan, layout ruangan, dekorasi, hingga keamanan. Tentu saja secara pribadi, aku ingin memberikan kesan yang baik bukan karena ngefans dengan figur beliau, tapi begitulah tuntutan profesi. Di bidang pariwisata, siapa pun tamu yang datang wajib hukumnya diladeni dengan keramahan. Apalagi, papa mengatakan bahwa yang memilih untuk makan malam di Pupuk Bawang adalah tim protokol rombongan Doktor Zakir Naik sendiri. Itu jadi semacam amanah yang harus dibuktikan.

Di awal, kami merasa santai saja, seperti selayaknya mendapat orderan besar yang memang harus menutup untuk seluruh area untuk umum karena masalah kapasitas. Toh pihak yang menghubungi tidak banyak memberikan persyaratan harus ini harus itu. Hingga beberapa saat menjelang kedatangan, banyak pihak kepolisian yang datang untuk mengamankan area. Wah, serius juga ini pengamanannya, pikirku jadi sedikit deg-degan. Sampai rombongan Pak Zakir Naik tiba, persyaratan-persyaratan itu pun baru muncul, seperti yang melayani tamu laki-laki harus server laki-laki. Sebaliknya, tamu perempuan harus dengan server perempuan.

“Yang ibu dan anak perempuannya Pak Zakir itu sangat sensitif sekali dengan kamera. Tolong jangan ada yang foto-foto di sekitar mereka ya,” ujar salah satu protokol yang mendampingi Dr Zakir Naik.

Persyaratannya cukup sederhana sebenarnya, hanya saja kami yang dari awal nggak kepikiran jadi sedikit kalang kabut. Jujur nggak banyak server yang bisa berbahasa Inggris secara baik apalagi yang perempuan. Jadilah, aku sendiri (yang memang sehari-hari nggak berjilbab dan nggak pingin hanya karena acara khusus semacam ini) turun tangan untuk meladeni rombongan perempuan di mana mereka bersedia mengambil makanan menunggu setelah para lelaki selesai mengambil makanan. Kami menyiapkan dua area buffet, di mana yang satu untuk rombongan utama Dr Zakir Naik dan satu lagi untuk rombongan pengantar dan keamanannya, bukan berdasarkan laki-laki atau perempuan. Malem itu rasanya kayak sudah nyiapin belajar Matematika, eh tapi ternyata besoknya ulangan Biologi.

Jangan tanya apa saja yang sempat aku bicarakan dengan Pak Zakir malam itu karena aku cuma laden dan jelas tidak bisa bercakap langsung dengan beliaunya. Ada awkward moment di mana saat Mas Fariq Naik, anak cowoknya Pak Zakir yang juga suka ceramah, liat-liat show case ice cream dan kebetulan aku berdiri di dekat situ. Dengan cara Inggris aku bertanya apa dia pingin ice cream yang diiyakan olehnya. Aku memanggil server cowok untuk mengambilkan ice cream yang diinginkan, namun karena si server itu nggak terlalu bisa bahasa Inggris, jadilah aku tetap mendampingi. Aku sadar kalo si Mas Fariq ini sepertinya agak risih karena aku yang berbicara. Dari pada dianggap berzina mata jadinya aku ngomong sambil menatap langit-langit atap saja. Buat aku aneh karena nggak sopan, tapi mungkin buat Mas Fariq lebih nyaman begitu.

Untungnya semua berjalan lancar, bahkan terbilang sukses. Keluarga Pak Zakir menikmati suguhan yang disajikan. Bukan sekedar omongan, mereka bahkan sampai tambah-tambah dan minta mbungkus buat makan di hotel. Dari banyak pertanyaan dan mungkin ungkapan yang berseberangan dengan pendapat Pak Zakir, aku cukup puas bisa memberikan pelayanan yang maksimal untuk beliau. Secara tidak langsung aku ingin memberi gambaran bahwa di Indonesia ini meski banyak individu yang secara ideologi berseberangan, kami tetap menjalin silahturahmi yang baik antara satu dan yang lain. Tolong jangan diubah.

One thought on “Wah, Warung Saya ‘Disidak’ Pak Da’I Kondang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s