Selamat Jalan, Pak Lik Didi Kempot: Sebuah Catatan Pribadi Sobat Ambyar

Harus saya akui, saya bisa dengan bebas dan bangga menyanyikan lagu-lagu Didi Kempot baru beberapa tahun ini. Mungkin, tepatnya ketika para fansnya mulai menampakkan diri sekitar dua atau tiga tahun belakangan ini dan menyebut diri mereka sebagai #SobatAmbyar. Setelah hampir tiga puluh tahun berkarya (sama dengan usia saya saat ini), akhirnya lagu-lagu Maestro Campursari tersebut berhasil meracuni telinga-telinga berbagai kalangan. Saya tidak akan membahas bagaimana penyanyi yang tinggal di Solo itu bisa meraih sukses karena konsistensinya berkarya atau fenomena galau berjamaah yang membuat Cak Didik tiba-tiba digandrungi anak muda. Tulisan ini adalah murni catatan pribadi seorang fans yang sedang bersedih ditinggal idolanya yang benar-benar sedang di puncak performa. Ya, serupa lah dengan gadis remaja yang patah hati ditinggal kekasihnya saat lagi sayang-sayangnya.

Jauh sebelum era YouTube apalagi Spotify, saya adalah seorang remaja yang mendapatkan referensi musik dari: MTV, Selamat Pagi Indonesia di RCTI, pedangan VCD bajakan depan Toko Siswa depan Alun-Alun Malang. Di situ lah saya berkenalan dengan pria gondrong yang menyanyikan sebuah lagu berbahasa Jawa. Norak. Istilah itu yang mungkin ada di kepala saya yang masih berumur kurang dari dua belas tahun. Iya, sepertinya akan dianggap kampungan kalau mendendangkan lagu tersebut di kalangan teman-teman. Sayangnya, lagu norak itu malah nyantol di otak dan kadang-kadang tanpa sadar saya gumamkan ketika bosan di kelas. Jauh sebelum dia dijuluki sebagai The Lord of Broken Heart karena lagu-lagu patah hatinya, saya terlebih dahulu mengenalnya lewat Prau Layar, Caping Gunung, dan Yen Ing Tawang Lintang (bahkan lagu Prau Layar ini jadi seperti soundtrack ketika Bapak saya kampanye tahun 2007).

Perkenalan saya lebih dalam adalah ketika salah satu lagunya dinyanyikan oleh Aremania di Stadion saat pertandingan Arema. Lirik, “manuk e manuk e cucak rowo, cucak rowo dowo buntut e, buntut e siang akeh wulune, yen digoyang ser ser aduh enak e,” diubah menjadi, “Arema Arema Singo Edan, Singo Edan Aremania, Sekarang Arema Menang…” lanjutkan sendiri ya… Waktu itu meskipun lagu ‘Ketaman Asmoro’ sangat mewakili perasaan saya sebagai remaja yang sedang kasmaran, tetapi rasanya saya akan dicap kampungan jika mengirimkan lagu tersebut untuk sang gebetan.

Selama bertahun-tahun saya dan mungkin beberapa di antara kalian mencintai lagu-lagu Didi Kempot dalam diam. Menikmatinya saat sendiri entah untuk merayakan hati yang sedang jatuh cinta dengan Sekonyong Koder, menikmati sendunya patah hati dengan Cidro, atau meratapi nasib karena mencintai yang telah menjadi miliknya dengan Jambu Alas. Apapun itu, saya patut berbahagia karena pada akhirnya banyak orang bisa terhipnotis dengan lagu-lagu yang syairnya berbahasa Jawa mataraman tersebut.

Tentu tidak pernah terbayangkan sebagai seorang yang dulu hanya berani nyanyi sambil joget-joget sendiri di kamar, kini bisa menonton konsernya mulai dari yang gratisan sampai yang eksklusif. Di panggung acara daerah, acara anak senja yang gaul-gaul, acara kampus, acara pensi sekolah, acara televisi, di mana-mana, konon kabarnya jadwalnya sudah penuh sampai setahun ke depan. Dari puluhan lagu yang diciptakan Didi Kempot, lagu-lagu bertemakan patah hati dan kerinduan lah yang membuat karirnya meledak. Bersedih karena patah hati seperti sebuah aib yang harus ditutupi, seolah hal tersebut tabu untuk diumbar. Mengubar patah hati hanya akan menempelkan stigma AMBYAR di jidat kita. Namun rasanya, dalam lagu-lagu Didi Kempot tersebut tersirat mantra yang membuat saya sebagai pendengar benar-benar menghayati kesedihan hingga merasa tidak apa-apa bersedih dan dengan bangga memplokamirkan keambyaran yang hakiki. Ketika menonton konsernya, saya diajak untuk bergoyang sambil meneriakkan kesedihan itu lewat syair lagunya yang sangat mewakili kesedihan saya. Namun, setelahnya kesedihan itu seolah menjadi teman yang pas untuk bersenang-senang.

Kegagalan adalah hal yang biasa saja dalam hidup. Kebanyakan lagu-lagu Didi Kempot memang bertemakan kegagalan soal cinta. Namun, entah kenapa saya memaknai lirik lagu patah hatinya dengan kegagalan secara universal. “Wong salah, ora gelem ngaku salah, suwe-suwe sopo wong e sing betah. Mripatku uwes ngerti, kowe seneng golek menangmu dewe. Tak tandur pari, jebul tukule malah suket teki,” sepenggal lirik dari lagu Suket Teki tersebut mengisahkan seorang yang jenuh karena selalu mengalah dan disalahkan, seperti apa yang dikerjakannya selama ini sia-sia saja. Sepenggal lirik lagu patah hati tersebut selalu saya perdendangkan keras-keras ketika sedang suntuk dengan situasi pekerjaan yang penuh tantangan dan persaingan ketat.

Seniman yang telah mengajarkan saya bersahabat dengan rasa sedih, gagal, dan ambyar itu telah berpulang. Tentu saja ini menjadi patah hati paling ambyar berskala besar tingkat nasional, tapi saya yakin seluruh Sobat Ambyar akan mampu melewati seperti pesan terakhirnya kuat ora kuat pokok e kudu kuat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s