Jadi Pemain Bola itu Mahal dan sekarang Harus Bersaing dengan Pemain Naturalisasi

Sebagai pecinta sepakbola tanah air, kabar Indonesia akan menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 tahun 2021 tentu menjadi hal yang menggembirakan. Terbayanglah sudah gimana kita-kita yang bisa nonton kehebohan giat sepakbola berskala dunia itu tidak perlu dengan melekan tengah malam atau bangun pagi-pagi buta. Bukan cuma itu, betapa telah berandai-andainya kita membayangkan bahwasanya pemain-pemain liga Eropa sekaliber Greenwood waktu perhelatan Piala Dunia nanti posting instastory makan ketoprak atau jalan-jalan ke Pasar Sukawati naik ojol. Tentu saja, yang paling berbahagia serta penuh semangat menyambut perhelatan ini adalah pemain-pemain sepakbola muda di Indonesia.

Di tahun 2018, PSSI membuat suatu kejutan dengan mewajibkan seluruh klub yang berlaga di Liga 1 membentuk tim muda dari tingkatan U-16, U-18, dan U-20. Tim muda ini kemudian diberi wadah kompetisi yang disebut sebagai Elite Pro Academy. Meski gaungnya tidak semeriah Liga 1, kompetisi ini perlu diapresiasi karena seolah menunjukan kesungguhan PSSI dalam melakukan pembinaan terhadap sepakbola usia dini. Terutama dalam mempersiapkan tim yang akan berlaga di Piala Dunia U-20 tahun 2021 mendatang. Wajar saja jika para pemain muda yang berlaga di Elite Pro Academy berharap besar dengan berasumsi kalau dirinya menunjukkan perfoma yang terbaik pada kompetisi tersebut, sudah barang tentu akan dipanggil untuk mengisi squad Garuda untuk Piala Dunia U-20 di tahun 2021 mendatang. Para pemain bintang Elite Pro seperti Irfan Jauhari mungkin sudah bermimpi bakal satu lapangan dengan Harvey Elliot dan disaksikan oleh pelatih-pelatih dari negara lain.

Namun, mimpi di siang bolong yang ndaki-ndaki itu perlu ditahan dulu agar tidak kecewa karena lagi-lagi manusia boleh berharap dan berupaya, sistem dan penguasa lah yang menentukan. Sebab, ada wacana yang berhembus PSSI sebagai organisasi sepakbola tertinggi di Indonesia, akan mendatangkan pemain muda dari Brasil yang siap untuk dinaturalisasi. Benar atau tidaknya tentang wacana tersebut hanya Tuhan dan PSSI yang tahu, akan tetapi beberapa klub Liga 1 sudah siap untuk menerima pemain-pemain muda asal negeri Samba ini. Salah seorang pengelola klub yang kedatangan pemain tersebut menyatakan bahwa keberadaan pemain muda Brasil tersebut tujuannya untuk transfer ilmu kepada pemain lokal, yang mana alasan ini sudah sering didengar mulai dari kompetisi masih boleh disponsori perusahaan rokok. 

Benar atau tidak mengenai wacana naturalisasi ini sebenarnya adalah suatu hal yang bagus. Maksud saya, bagus untuk menjatuhkan semangat pemain muda Indonesia yang sedang berupaya membangun karir dan prestasi di sepakbola. Bayangkan saja, pemain-pemain muda kita yang sudah dari usia dini tekun berlatih, mengorbankan waktu dan juga biaya yang tidak sedikit, eh pas ada kesempatan, malah diberikan pada anak dari negara lain.

Meskipun baru setahun ini mengelola sebuah akademi yang bernama Batu Football Academy (BAFA), saya bisa merasakan kesedihan pesepakbola usia dini di Tanah Air atas wacana naturalisasi untuk Piala Dunia U-20 ini. Saya pun rasanya jadi turut patah hati jika benar terjadi, karena saya tahu betul untuk menjadi pemain bola profesional apalagi sampai masuk tim nasional di negeri ini sebenarnya tidaklah murah. Rata-rata mereka yang bercita-cita menjadi pemain bola di negeri ini adalah mereka yang berasal dari keluarga sederhana yang mungkin untuk bercita-cita jadi lurah atau PNS saja takut karena tidak punya kenalan orang dalam. Untuk itu, bermain bola dianggap sebagai jalan ninja menuju kesuksesan. Padahal jika dicermati modal yang perlu disiapkan tidak sedikit, baik itu modal biaya, waktu, dan tekad. Mulai dari biaya sekolah sepakbola, peralatan latihan, berdisiplin untuk menjaga pola makan yang bergizi, sampai merelakan hari libur sekolah untuk berlatih bola. Itu semua dilakukan sejak usia paling tidak sembilan tahun.

Sebagai tuan rumah, memang sah-sah saja jika PSSI ingin tim nasionalnya tampil semaksimal mungkin. Semua pecinta sepakbola di Indonesia pasti juga sangat berharap tim nasional kita tidak hanya menjadi tim pelengkap atau bahkan jadi bulan-bulanan tim nasional negara lain, tapi, masa iya satu-satunya jalan cuma dengan naturalisasi? Terus, apa dengan naturalisasi sudah pasti tim garuda muda kita akan tampil menawan di Piala Dunia? Pastinya, dengan isu naturalisasi ini jangan sampai pemain muda kita jadi patah semangat lalu banting setir dengan libuk sibuk bikin konten youtube, terima endorse, dan jadi host my trip my adventure.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s