Meraba Peruntungan di Gunung Kawi

Dengan kekuatan kepercayaan spiritual dan sejarahnya, Gunung Kawi menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Gunung Kawi terletak di sebelah barat kota Malang, tepatnya berada di kecamatan Wonosari, kabupaten Malang, Jawa Timur. Ketinggian Gunung Kawi mencapai 2551 meter. Pesona Gunung Kawi terdapat karena kepopulerannya sebagai tempat sembayang bagi dua etnis sekaligus, yakni etnis tionghoa dan jawa. Puncak keramaian Gunung Kawi akan terasa pada saat Tahun Baru Cina (Imlek) dan Tahun Baru Jawa (Suro). Pada Imlek tahun 2012 (23/1), saya berkesempatan untuk singgah ke Gunung Kawi.

Mendaki Penuntut Nasib; Di Gunung Kawi ini terdapat Kuil Kuan Im yang digunakan untuk sembayang secara Kong Hu Cu. Selain itu terdapat juga ritual giam si yang dipercaya dapat membaca peruntungan atau nasib. Bagi orang Jawa yang percaya, Gunung Kawi dianggap keramat karena terdapat makam Eyang Raden Mas Kyai Zakaria dan Radeng Mas Imam Sujono, pengikut Pangeran Diponegoro yang mengasingkan diri dan menybebarkan ajaran-ajaran spiritual di Gunung Kawi. Berziarah ke makam Eyang Raden Mas Kyai Zakaria dan raden Mas Imam Sujono yang terletak di Gunung Kawi ini, dipercaya dapat mendatangkan keberuntungan.

Pelita Harapan; Pak Paidi warga asli Gunung Kawi yang juga penjaga tempat-tempat wisata ziarah di Gunung Kawi mempersiapkan lilin-lilin yang berada di Kuil Kwan Im. Lilin-lilin tersebut milik orang-orang yang rutin datang ke Gunung Kawi untuk bersembayang. Lilin adalah simbol penerangan bagi pesembayang, dengan menyalakan lilin diharapkan pesembayang selalu diterangi jalan hidupnya. Lilin-lilin tersebut harganya mencapai hingga puluhan juta rupiah, tergantung dari ukurannya. Pesembayang percaya semakin besar lilin yang dinyalakan semakin terang jalan hidupnya.

Mengintip Misteri; Yang sangat populer di Gunung Kawi ini adalah giam si yakni meramal dengan menggunakan nomor. Teknisnya, orang yang ingin diramal mengocok sebuah tabung yang yang berisi beberapa batang kayu yang telah diberi nomor di setiap batangnya sambil memikirkan apa yang ingin diketahui. Orang yang diramal tersebut mengocok hingga jatuh satu batang kayu. Nomor batang kayu yang jatuh itu lah yang menjadi nomor peruntungannya. Arti dari nomor tersebut dapat ditanyakan kepada penjaga ruang giam si.

Meski ramalan ini identik dengan adat Cina, namun di Gunung Kawi penjaga yang membacakan nomor peruntungan  berasal dari warga setempat dan memakai pakaian adat Jawa. Pada saat saya berkunjung ke sana pun, tampak yang mengantri untuk diramal dengan giam si ini tak hanya etnis Cina. Banyak etnis yang bukan Cina ingin juga mencoba membaca nasib melalui giam si.

Lenggang Lapang

Musik telah ditabuh. Penari yang telah siap dengan kostumnya pun memasuki area pentasnya. Gerak pun dimulai. Lenggang ke kanan ke kiri mengikuti alunan musik yang menghentak atau pun yang mendayu. Seni gerak tubuh yang telah dikenal dengan tari cukup banyak macamnya. Dari berbagai belahan dunia, tiap-tiap negara, bahkan tiap daerah memiliki khas tariannya tersendiri. Seperti karya seni lainnya, tari menampilkan berbagai simbol baik itu untuk mengungkapkan penyambutan, pemujaan, dan perasaan-perasaan tertentu. Kali ini, saya mencoba membagikan tarian-tarian yang pernah terekam dalam kamera saya.


Laskar Teji; Foto ini saya ambil pada tanggal 8 Oktober 2011 pada saat perayaan HUT Kota Batu Jawa Timur. Tarian Kuda Lumping atau Jaran Kepang sangat sering dijumpai di Jawa Timur khususnya daerah Kidulan (Selatan). Tarian ini ditampilkan untuk menyambut tamu kehormatan atau mengucap syukur. Berbagai kisah sejarah, menceritakan tarian ini merupakan bentuk apresiasi masyarakat terhadap tokoh-tokoh perjuangan yang menumpas Belanda dengan berkuda seperti Pangeran Diponegoro, Raden Patah, Sunan Kalijaga, dan Sultan Hamenhkubuwono I.

Satu dalam Harmoni; Keselarasan dalam gerak tampak dalam Tarian Sanduk yang merupakan tarian khas Madura. Kesatuan gerak merupakan hal penting dalam seni tari, apa lagi tari kolosal seperti Tarian Sanduk. Dalam tarian yang membutuhkan penari dalam jumlah banyak ini dapat dilihat bahwa tari merupakan salah satu sarana pergaulan.

Goyang Tarekat; Salah satu tarian khas Timur Tengah, yaitu Tari Tanoura, yang berarti “rok” dalam bahasa Indonesia. Tarian ini dilakukan oleh para sufi di Mesir untuk mendekatkan diri pada ilahi. Caranya, penari melakukan gerakan tarian berputar-putar dengan roknya sehingga menghasilkan kombinasi gerak dan warna yang memukau. Rok lebar yang digunakan sang penari, berwarna-warni.  Warna tersebut melambangkan salah satu tarekat sufi.

Menari di Tirta Amerta; Tarian untuk pemujaan sering dijumpai dalam upacara-upacara tradisi atau keagamaan. Seperti pada upacara Melasti yang dilakukan umat Hindu, sebelum melakukan pembersihan ke sumber mata air suci, terlebih dahulu dipersembahkan tarian sebagai rangkaian upacara.

Menapak Jejak Tanah Perjanjian

Meski tidak diwajibkan seperti pergi haji bagi umat muslim, dapat pergi ke Tanah Perjanjian menjadi impian sebagian umat nasrani di berbagai negara. Tanah Perjanjian merupakan daerah-daerah yang tertulis dalam Kitab Suci umat nasrani. Pada bulan Januari 2011 lalu, saya berkesempatan untuk mengikuti salah satu rombongan tour wisata rohani ke Tanah Perjanjian dari Greja Bethani Surabaya. Rute yang akan kami lalui adalah dari Jakarta (Indonesia) ke Kairo (Mesir), Gunung Sinai (Mesir), Yerusalem, Yerikho, Nazaret (Israel), Betlehem (Palestina). Tempat-tempat yang kami kunjungi memang daerah-daerah yang tertulis di Alkitab. Terlepas dari berbagai kontroversi tentang negara yang saya kunjungi, saya tidak peduli. Ada banyak hal bisa kita nikmati dari pada sekedar mencurigai.
Nyalakan Lilin sebelum Gelap; Judul tersebut saya berikan karena hari pertama saya di Mesir, tepatnya di ibu kota Kairo, saya jalan-jalan ke perkampungan nasrani. Di sana ada banyak greja-greja yang menurut saya bangunannya tak beda jauh dengan masjid hanya saja ujungnya diberi simbol salib. Sore harinya, saya sudah bertolak dari Kairo dan besoknya saya melihat berita kerusuhan parah terjadi di Kairo.


Memecah Fajar dari Gunung Sinai; Dengan Tinggi 2.285 meter, Gunung Sinai berada di barisan pegunungan di sebelah selatan Semenanjung Sinai (Mesir). Gunung Sinai merupakan tempat tujuan para wisatawan rohani dari berbagai dunia karena oleh umat nasrani, tempat ini dipercaya sebagai tempat Musa menerima sepuluh perintah Allah. Untuk mencapai puncak Gunung Sinai, saya harus mendakinya. Onta hanya bisa membawa saya dari parkiran kendaraan sampai kaki gunung. Pada saat itu, bulan Januari, masih musim dingin, mungkin bisa dikatan suhu mencapai minus derajat karena beberapa bagian Gunung Sinai memutih tertutup es.


Syalom, Yerusalem!; Inilah kota Yerusalem, kota suci bagi umat Kristen, Islam, dan Yahudi karena terdapat tempat-tempat bersejarah bagi perjalanan agama-agama tersebut. Melihat kecantikan kota tersebut, saya tak heran jika kota Yerusallem diperebutkan oleh banyak pihak. Bahkan hampir semua negara tidak mengakui kota tersebut adalah ibu kota Israel.


Kubah Shakhrah; Salah satu tempat suci yang ada di Yerusaleem adalah Kubah Shakhrah. Nama lainnya adalah Kubah Batu, terletak di Kota Lama Yerusalem (Sebelah Timur). Di dalam kubah ini terdapat batu Ash-Shakhrah yang menjadi tempat paling suci bagi umat Yahudi. Kubah Shakhrah bukanlah sebuah masjid, sebaliknya, merupakan sebuah kompleks yang terdapatnya sebuah batu besar yang dikatakan tempat Nabi Muhammad berdiri ketika peristiwa Isra dan Mi’raj. Qubbat As-Sakhrah terletak di Baitulmuqaddis di kawasan Al-Haram asy-Syarif. Qubbat As-Sakhrah bukanlah Masjid Al-Aqsa karena Masjid Al-Aqsa terletak tidak jauh daripada bangunan ini.
Kubah ini terletak di kawasan muslim, hanya orang muslim yang boleh memasuki areal tersebut. Saya pun mencoba masuk, untuk meyakinkan saya memakai plasmina sebagai jilbab. Di depan gerbang telah ada petugas berwajah Arab dengan sorban di atas kepala dan pistol panjang.
“Hey, where are you come from? Are you Moslem?” tanyanya mencegatku, orang asing yang akan masuk.
“Indonesia. Yes, I’m Moslem!” kataku sambil menunjukkan passport dan membetulkan jilbab ‘dadakan’. Dia masih bengong melihat pasportku dan penampilanku, jaket kulit, celana jeans, sepatu kets, dan jilbab. Kukeluarkan KTP-Indonesiaku.
“This is my country ID card. Here you are, my religion: Islam. It means Moslem,” kataku sambil menunjuk tulisan agama di KTP.
“But your dress not like Moslem’s women,” katanya lagi.
“Oh It’s okay wear like this in my country. I’m sorry, but I want to pray to Allah and see what a great He made,” kukeluarkan gombal-gombal sedikit untuk merajuknya.
“Can you tell me alfateha?”
Kubacakan surat alfateha, dengan gaya dicengkok-cengkokan supaya tampak lebih meyakinkan. Saya hafal betul dengan surat tersebut, tapi dengan kondisi dipelototin serdadu bersenapan gini, saya jadi sering-sering lupa. “Okay! You can go. Wear this!” katanya setelah yakin bahwa saya Islam. Dia juga meminjamkan bawahan rok panjang untuk saya gunakan selama memasuki areal muslim tersebut. Saya baru sadar kalau yang dimaksud “tidak berpakaian seperti perempuan muslim” itu karena saya pakai celana (bukan rok).


Bapa Kami Lintas Bahasa; Kapel Bapa Kami dibuat karena dipercaya di tempat tersebutlah diturunkannya doa Bapa Kami, yang merupakan pedoman doa bagi umat nasrani. Dalam kapel tersebut dapat berbagai tulisan Doa Bapa Kami dalam berbagai bahasa di seluruh dunia, bahkan hingga bahasa sukubangsa di Indonesia, seperti Jawa, Papua, Palembang, Toraja. Mungkin ini menunjukkan bahwa Dia selalu mengerti bahasa kita dan apa yang kita sampaikan dengan cara yang kita ketahui masing-masing.


Meratap Pada Shekhinah; Malam terakhir di Yerusallem, saya menyempatkan ke Tembok Ratapan. Tempat yang sangat sacral bagi umat Yahudi. Ini adalah sisa dinding Bait Suci di Yerusalem yang dibangun oleh Raja Salomo (Sulaiman), putra Daud. Bait Suci itu hancur ketika Israel diserbu tentara Romawi pada tahun 70 Masehi. Panjang tembok ini aslinya sekitar 485 meter, dan sekarang sisanya hanyalah 60 meter. Orang Yahudi percaya bahwa tembok ini tidak ikut hancur sebab di situlah berdiam “Shekhinah” (kehadiran ilahi). Berdoa di situ dianggap sama artinya dengan berdoa kepada Tuhan. Tembok ini dulunya dikenal hanya sebagai Tembok Barat, tetapi kini disebut “Tembok Ratapan” karena di situ orang Yahudi berdoa dan meratapi dosa-dosa mereka dengan penuh penyesalan. Selain mengucapkan doa-doa mereka, orang Yahudi juga meletakkan doa mereka yang ditulis pada sepotong kertas yang disisipkan pada celah-celah dinding itu. Dinding ini di bagi dua bagian, untuk laki-laki dan perempuan. Dalam kepercayaan Yahudi, laki-laki dan perempuan tidak boleh berdampingan ketika berdoa. Tembok ini diperlakukan sangat suci sehingga, orang Yahudi tidak mau membelakangi tembok tersebut. Ketika mereka telah selesai berdoa, mereka jalan mudur sampai batas keluar supaya tidak membelakangi tembok tersebut.


Prepare for Reborn; Salah satu ritual yang ingin dilakukan para wisatawan rohani ketika melancong ke Tanah Perjanjian adalah dibaptis di Sungai Yordan. Baptisan dikenal sebagai ritual inisiasi Kristen yang melambangkan pembersihan dosa dengan menyelupkan seluruh tubuh ke dalam air. Sungai Yordan dipercaya oleh umat nasrani sebagai sungai yang membaptis Yesus. Sungai itu terletak di batasan antara Israel dan Yordania.

Sapi Sonok Madura

Sebagai daerah agraris, sapi merupakan hewan yang sangat erat dengan kultur kebudayaan Madura. Selain terdapat Karapan Sapi yang telah cukup terkenal, di Madura juga terdapat kontes kecantikan Sapi yang dikenal dengan nama Sapi Sonok. Pada bulan Oktober 2010, saya berkesempatan untuk mengunjungi Pulau Madura dan menyaksikan kontes Sapi Sonok. Dalam bahasa Madura, ‘sonok’ berasal dari kata ‘sronok’ memiliki arti menerobos (masuk), sehingga dalam tradisinya kegiatan ini mulanya bertujuan untuk menyambut kedatangan tamu. Pada saat ini, Sapi Sonok menjadi festival untuk merayakan musim panen.


Lenggangan Si Betina Madura; Salah satu penilaian dalam kontes ini adalah ‘cantik’, sehingga sapi-sapi yang ikut ini adalah sapi betina. Sapi-sapi tersebut dihias dengan beraneka perhiasan yang sesuai dengan gaya asal usulnya, seperti Pamekasan, Sumenep, dsb. Setelah tampak cantik, sapi-sapi tersebut berjalan mengikuti irama pemusik saronen dan joki di ‘catwalk’-nya.

 


Dua Bidadari; Bak pragawati, sapi-sapi yang telah berdandan pun tampak menarik dan mengundang decak kagum yang memandangnya. Kepala sapi bermahkota. Tandukpun diberi selongsong hiasan emas.Aneka hiasan tampak pula dipasang melilit leher hingga kaki sapi.

 


Point of Interest; Meskipun telah berlangsung berkali-kali, kontes Sapi Sonok selalu dinanti dan didatangi oleh banyak orang. Mereka yang tertarik menikmati kemeriahan Sapi Sonok ini bukan hanya yang berasal dari Pulau Madura saja tetapi juga hingga dari luar Pulau Madura, bahkan luar negeri.


Siap ‘Nylonok’; Musik telah ditabuh. Sapi telah melenggak-lenggok. Saatnya sang sapi unjuk kecantikan menyapa ratusan pasang mata yang menantikan aksinya dan menarik perhatian para juri. Penilaian Sapi Sonok ini berdasarkan ketepatan waktu sapi dalam berjalan, tidak boleh kurang atau pun lebih. Penilaian terbaik akan diberikan untuk sepasang sapi yang berjalan lurus dan mengikuti irama musik dalam lintasan sepanjang dua puluh lima meter.


Belum Lengkap Tanpa Sawer; Meskipun tidak masuk dalam kriteria penilaian, joki dan musik pengiring sapi pun tak mau ketinggalan dalam unjuk kebolehan. Mereka pun turut menari dan berlenggak-lenggok tak kalah heboh dengan sapi yang diiringinya. Penonton yang menikmati kelincahan mereka pun mengapresiasi dengan memberikan uang sawer.